Tags

, , ,

Kisah ini terjadi di bulan februari Tahun 2012

Pagi itu, tiba tiba saya diperlihatkan undangan Workshop IT di Bali oleh Mr. I, salah satu karyawan kantor. Jujur, saya senang banget, kebetulan saya belum pernah ke Bali dan pengen banget kesana (sambil membayangkan indahnya pulau dewata). Saya pun membaca surat tersebut perlahan lahan agar bisa mendapatkan informasi rundown acara tersebut dengan jelas. ”Owh acaranya tanggal 17-20 februari” kataku dalam hati. setelah itu, saya terdiam sejenak dan tiba tiba terlintas di pikiran saya “perusahaan tempat saya bekerja terdapat 3 orang yang berposisi sebagai IT, tidak mungkin saya yang berangkat, saya kan baru setahun bekerja disini”. Akhirnya surat itu saya simpan kembali di atas meja.

Hari demi hari, minggu demi minggu telah berlalu saya belum mendapat kabar, siapa yang akan menghadiri workshop tersebut, bahkan sampai tanggal 17 februari, keputusan belum ditentukan.

Pagi hari yang cerah, untuk jiwa yang sepi (hihihihi kayak lagunya peterpan aja), handphone saya tiba-tiba berdering, ternyata Mr. I menelpon saya, ”gus nga so  brangkat” tanya beliau, ”belum ka, kita kan  nentau, sapa yang mo brangkat” jawabku, ”bos bilang, nga yang berangkat, coba nga ke kantor, ketemu ibu W” kata beliau, saya benar-benar kaget dan tidak menyangka, ternyata saya yang di rekomendasikan untuk mengikuti workshop itu.  Saya pun langsung bangun, kebetulan pada saat itu masih di atas  kasur yang begitu empuk, dan bergegas mandi.

Setelah mandi, saya mempersiapkan segala keperluan selama 3 hari di Bali, beberapa baju, celana dan hal hal penting lainnya tak luput dari ingatan saya untuk saya masukkan ke dalam koper. Setelah mempersiapkan semuanya, saya pun menyimpan koper tersebut di depan pintu  ”Jis antar kita ke kantor” kataku kepada adikku.

Pagi itu sekitar pukul 10.00, saya sampai di kantor dan langsung menemui ibu W, ”bu katanya saya yang berangkat ke Bali” tanyaku pada beliau, ”iya, pesawat berangkat jam 11, kamu langsung saja ke “A” travel saja ambil tiketnya dan ini uang saku buat kamu, jawabnya lagi. Aku benar benar kaget mendengarkan ibu W yang menyatakan pesawat berangkat jam 11, hal itu dikarenakan koper yang berisi perlengkapan saya masih ada di rumah saudara, jaraknya yang cukup jauh tidak memungkinkan saya untuk kembali ke rumah tersebut, membutuhkan waktu satu jam untuk sampai di tempat itu, dan bila saya kembali, saya pasti ketinggalan pesawat. Pada saat itu saya hanya membawa tas ransel yang berisi hardisk, obeng, krimping, dan beberapa CD Installer yang saya gunanakan untuk memperbaiki komputer yang rusak di kantor, ”jis antar jo kita ke travel” kataku, ”hah, trus kamu pake baju itu saja ke Bali“ ? Katanya, ”iyyo noh, mo bagaimana lagi, kalo pulang ambe koper, takutnya ketinggalan pesawat” jawabku.

Sekitar 15 menit, saya sudah sampai di travel, saya pun langsung menanyakan tiket yang sudah di pesan ibu W, dan alangkah kagetnya, setelah mengetahui bahwa tidak ada pesawat yang langsung ke Bali, dari Manado-Jakarta menggunakan Batavia Air, Jakarta-Bali menggunakan Lion Air, saya kaget karena baru kali ini saya bepergian menggunakan pesawat, bagaimana kalau saya hilang di jakarta (hahaha dasar katro), setelah termenung beberapa saat, saya pun mengiyakan untuk mengissued tiket tersebut.

Setelah mendapatkan tiket tersebut, saya pun langsung menuju Bandara Samratulangi, dalam perjalanan, sesekali saya bertanya kepada adik saya tentang keselamatan perjalanan saya, dia pun menjawabnya dengan penuh percaya diri, walaupun saya tau, dia juga belum pernah naik pesawat.(hihihhihi)

Beberapa menit kemudian, tibalah kami di bandara, pada saat itu sekitar pukul 10.30, sayapun berpamitan kepada adik saya yang pada waktu itu tidak bisa mengantar saya sampai ruang tunggu bandara.

Singkat cerita

Setelah mengurus administrasi, saya pun langsung menuju ruang tunggu bandara yang berada di lantai 2, setelah beberapa saat menunggu, tiba tiba terdengar pengumuman bahwa pesawat yang kami tumpangi mengalami masalah, sehingga harus delay beberapa jam, saya benar benar stres mendengar hal itu, mengingat acara di Bali sudah dimulai sejak pagi tadi, namun disisi lain saya berencana memanfaatkan waktu itu untuk mengambil koper saya yang tertinggal di rumah, namun karena beberapa hal, saya mengurungkan niat tersebut.

Setelah bosan menunggu, akhirnya pesawat yang akan kami tumpangi telah tiba, saya pun bergegas menuju antrian, sampai di dalam pesawat, saya mulai mencari kursi yang sesuai dengan tiket yang ada di tangan saya.

Perjalan tersebut merupakan pengalaman pertama saya, merasakan bagaimana terbang di atas awan telah lama saya bayangkan dan baru kali ini terwujud.

Setelah 3 jam terbang, akhirnya sampai juga di Jakarta, saya pun keluar dari pesawat dengan pedenya dan berkata dalam hati ”saya mau kemana lagi”, saya pun mengikuti beberapa penumpang yang keluar dari pesawat tersebut dengan maksud mendapat pencerahan tentang yang harus saya perbuat selanjutnya, sesekali muncul dalam benak saya, ”kalau saya hilang di jakarta gimana yah, saya kan gak punya siapa siapa disini”, saya kaget, shock, semunya bercampur menjadi satu, melihat bandara yang begitu besar, dalam hati saya berdoa ”ya اَللّهُ, tolonglah hambamu yang katro ini”, tak henti hentinya saya berdoa hingga saya menemukan konter yang modelnya sama dengan yang ada di Manado, dengan pede, saya langsung menyodorkan tiket saya yang kedua ”maaf pak, Lion Air di gate B2, disini untuk Batavia” katanya, ”terus gate B2 itu dimana bu” tanyaku, ”bapak keluar dari sini, lewat sebelah sana pak” jawab ibu tersebut sambil menunjuk arah yang dikatakannya, setelah sampai di luar, saya meliahat E1, ”berarti B kesana lagi” kataku dalam hati. Saya pun berlari kencang seakan diburu oleh penjahat kelas kakap, dipikiran saya hanya ada kata ”hilang, hilang dan hilang, bagaimana jika saya hilang di jakarta”, setelah beberapa lama berlari, akhirnya saya sampai juga di gate B2, dan saya pun langsung melakukan pengecekan tiket, karena pada saat itu jam sudah mununjukkan pukul 03.00pesawat yang saya akan tumpangi akan segera berangkat, setelah mendapatkan nomor kursi, saya pun langsung menuju ruang tunggu.

Beberapa menit menunggu, terdengar pengumuman dari pihak bandara yang menyatakan pesawat kami mengalami masalah, dan delay 1 jam,  mendengar kabar tersebut beberapa penumpang marah, sebagian lainnya melampiaskan kekesalannya dengan pergi membeli cemilan, pihak bandarapun memohon maaf  atas kejadian tersebut dengan memberikan makanan kecil berupa roti, yahhh lumayanlah, kebetulan pada saat itu saya juga sedang lapar.

Belum sampai setengah jam, pesawat kami telah tiba, saya pun bergegas bangkit dan meraih tas yang telah lama menunggu saya dan menuju pesawat, setelah beberapa saat, kami pun berangkat

Hampir dua jam kami terbang, rasa penasaran saya untuk melihat pulau bali dari udara gagal total, karena pada waktu itu hari sudah gelap, yang terlihat hanyalah lampu lampu rumah penduduk yang berjejeran di pinggiran pantai.

Beberapa saat kemudian, saya pun tiba di pulau dewata, keluar dari pesawat dengan pede, namun rasa pede itu tiba tiba berubah setelah menyadari kalau saya lupa lokasi workshop tersebut, saya pun mengambil handphone dan mengaktifkannya, dan ternyata masalahpun bertambah, handphone saya mulai lowbet, dan chargernya ketinggalan bersama koper, ”benar benar sial” kataku dalam hati, aku hampir menangis pada waktu itu, namun hal itu tidak ku lakukan karena malu dilihat orang orang (hehehheh), saya mematikan kembali handphone tersebut kemudian berpikir, ”siapa yang harus saya hubungi” kataku dalam hati, karena terlalu bising, saya pun berjalan keluar dari bandara, sesekali tukang ojek dan sopir taksi menawarkan jasanya untuk mengantar saya, namun saya tidak menggubris mereka, saya terus berjalan sampai menemukan tempat yang benar benar sunyi, kemudian saya mengaktifkan kembali handphone dan langsung menghubungi bos saya yang ada di Manado, ”Bos kita so sampe di Bali, tolong kirimkan nomornya ketua panitia acara ini” kataku, ”okk” balasnya dengan singkat. Beberapa saat kemudian, masukklah sms bos saya yang berisi nomor panitia acara workshop tersebut, saya pun tidak membuang buang waktu dan langsung menelpon nomor tersebut. ” Pak saya peserta workshop dari manado kebtulan baru tiba di Bali, tempat kegiatannya dimana yah?” Kataku kepada si pemilik nomor tersebut, ”acaranya di green vilas”, kata si pemilik nomor, dan handphone pun kemudian mati total, kata green vilas tidak terdengar jelas ditelingaku sehingga membuat saya tidak begitu yakin. Saya pun membaringkan badan di atas rumput tempat saya duduk, yang kebetulan pada waktui itu sudah mulai letih.

Entah berapa lama saya terbaring, saya bangun ketika mendengar suara mobil yang lewat, dan tersadar, ternayata saya masih di bandara. Dari kejauhan saya melihat bapak separuh baya yang sedang menghisap rokoknya, sayapun menghampiri, ”pak pinjam koreknya”, kataku mulai membuka pembicaraan, dia pun memberikan macisnya dengan santai. ”Pak boleh nanya”, hotel green vilas dimana yah ”, belum sempat beliau menjawab, saya kembali mengutarakan perasaan saya, ”pak, saya dari manado, dan baru kali ini saya ke Bali, saya ada acara di sini, tempatnya di green vilas, tolong bantu saya pak” kataku dengan penuh pengharapan, dia pun mulai berpikir,       beberapa saat kemudian, ”iyya nanti dibantu, tapi tunggu teman saya dulu” katanya dengan logat bali.

Sekitar jam 9 malam, akhirnya teman bapak tersebut datang dan mereka pun berbahasa Bali, entah apa yang dikatakannya, dan tiba tiba ”ayo masuk” kata bapak tersebut, menyuruh saya masuk kedalam mobilnya., saya pun dengan pasrah masuk, yang ada dibenakku ”Tuhan tolong saya”, tidak jauh dari bandara, mobil tersebut berhenti, ”ini green vilas, coba tanya dulu, apa betul disini acaranya” kata bpk tersebut, saya pun turun dari mobil, dan langsung ke masuk ke lobi hotel tersebut ”pak apa betul disini ada acara Jawa Pos Group” tanyaku, ” iyya betul pak” jawab reseptionis itu, aku pun merasa senang, perasaan galau yang tadi menyelimuti berubah seketika, saya pun langsung berlari menuju mobil bpk yang mengatar saya tersebut dan berterima kasih, dan memberikan dia imbalan, namun bapak tersebut tidak mau menerimanya, dia hanya berkata ”yang penting kamu sudah selamat, saya sudah senang, nama saya Putu Leong, ini nomor saya” kata bapak tersebut sambil memberikan nomor handphonnya..

Setelah mengetahui kedatangan saya, pihak panitiapun keluar dan menemui saya, bertanya tentang keterlambatan saya, dan beberapa hal lainnya. Setelah bercakap cakap, dia pun mengantar saya menuju kamar yang telah di pesan.

 ”Alhamdulillah, terima kasih ya Allah” kataku dalam hati ketika sudah berada di dalam kamar

Advertisements